Saturday, 27 November 2010

‘Amr bin Al-Jamuh

gambar hiasan by google

Assalamualaikum . .

‘Amr bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu mempunyai satu  kisah kehidupan yang boleh dikatakan ‘lucu & menggelikan’, akan tetapi kisah itu juga merupakan kisah yang menjadi titik awal datangnya hidayah Allah kepada beliau, semoga Allah meridhainya.Bagaimanakah kisah ‘lucu’ tersebut?

kisahnya . .
‘Amr bin Al-Jamuh adalah seorang tokoh terpandang lagi terhormat dari Kabilah Bani Salamah. Dia memiliki sebuat berhala Manat yang terbuat dari kayu yang mahal yang dia letakkan di rumahnya. Hal ini sama dengan perbuatan para tokoh musyrikin lainnya pada waktu itu. Orang musyrik, pastilah dia menjadikan berhala itu sebagai sesembahan tandingan bagi Allah subhanahu wata’ala. Dia mengangungkan berhala itu dengan pengagungan yang sangat tinggi.
Di sisi lain, ternyata telah cukup banyak para pemuda dari Kabilah Bani Salamah yang menerima seruan dakwah Rasulullah dan bahkan ikut pula dalam perjanjian aqobah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara pemuda-pemuda tersebut adalah Mu’adz ibnu Jabal dan Mu’adz bin ‘Amr, putra dari ‘Amr bin Al-Jamuh.
Dari sinilah kisah itu bermula. Beberapa pemuda Bani Salamah, di antaranya Mu’adz bin Jabal dan Mu’adz bin ‘Amr, berikhtihar untuk membuang berhala milik ‘Amr itu. Mereka membawa berhala itu dengan sembunyi-sembunyi, jangan sampai diketahui oleh ‘Amr bin Al-Jamuh, lalu membuang berhala itu ke dalam lubang najis. 
Ketika pagi harinya, ‘Amr bin Al-Jamuh terkejut. Dengan perasaan sakit hati, marah, dan hairan, dia pergi mencari berhala kesayangannya itu. Ketika dia mendapati tuhannya berada di dalam lubang najis, dia sungguh bertambah terkejut dan marah. Lalu dia ambil berhala sesembahannya itu, dia cuci dengan bersih, dan tak lupa untuk memberi wewangian yang harum pada berhala itu. Masih dalam suasana hati yang panas, dia berkata, “Demi Allah, kalau aku tahu orang yang melakukan ini padamu, sungguh aku akan menghinakannya!”
Saat malam tiba dan ‘Amr bin Al-Jamuh dipastikan telah tidur oleh para pemuda tadi, mereka pun kembali beraksi sebagaimana aksi mereka yang pertama tadi. Pagi hari berikutnya, ‘Amr pun mendapati hal yang serupa dengan peristiwa tempoh hari. Dan dia melakukan hal yang sama terhadap berhalanya itu.
Para pemuda tadi pun tidak merasa bosan mengerjakan berhala ‘Amr bin Al-Jamuh, berulang kali. Hingga suatu malam,, sebelum tidur, 'Amr Al-Jamuh menemui berhalanya itu dan membawa pedang miliknya. Lalu pedangnya itu ia gantungkan di leher berhala, sembil berkata, “Wahai Manat, sungguh aku tidak tahu siapa yang telah memperlakukan engkau demikian ini, sebagaimana yang kau lihat sendiri. Bila pada dirimu ada kebaikan, maka pertahankanlah dirimu dari ‘kejahatan’ itu. Ini ku berikan pedang, bela dirimu sendiri” Lalu ia pun pergi tidur.
Setelah malam merayap gelap dan ‘Amr benar-benar telah tidur, para pemuda itu kembali beraksi. Kali ini mereka mengambil pedang yang ada di leher Manat, lalu membawanya keluar rumah dan mengikatnya jadi satu dengan bangkai seekor anjing! Lalu kembali menghumbankan berhala itu ke tempat yang sama seperti sebelumnya.
Pagi datang, matahari menyinarkan cahayanya yang terang. Tapi, ‘Amr bin Al-Jamuh menjadi hairan dengan hilangnya Manat lagi. Dicari Manat dan dia dapati berhala kayu itu telah jatuh tersungkur bersama bangkai anjing, sedangkan pedangnya telah hilang dari si Manat. Ternyata, ‘Amr tidak mengambil dan mengeluarkan Manat dari tempat najis itu, bahkan dia membiarkan patung kayu itu di sana.
‘Amr bin Al-jamuh lantas bersyair, “Demi Allah, andaikan engkau memang Tuhan yang benar, tentu engkau tidak akan rela bersama satu ikatan dengan bangkai anjing, terbuang ke dalam lubang najis.”
Maka, berakhirlah cerita kekafiran ‘Amr bin Al-Jamuh. Beliau lantas menyambut agama ‘baru’ ini dengan segenap jiwa dan raganya. ‘Amr menyerahkan diri, anak-anak, serta hartanya di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau menjadi seorang muslim yang kuat imannya dan benar-benar merasakan manisnya buah keimanan. Kalau dia mengingat peristiwa itu dan berhalanya, ‘Amr selalu menyesali perbuatan syiriknya dahulu dan bersyukur kepada Allah atas pertolongan dan hidayah-Nya yang Dia berikan kepada-Nya.

sumber: hanif
p/s: Maha suci ALLAH, sungguh! hidayah itu milikNYA jua.. walaupun sudah berumur, Amr tetap dapat merasai nikmat iman dan islam.."better late than never".. nak dgr lebi lanjut..klik sini .. semoga Allah redha..

6 comments:

  1. perkongsian yg sgt baik dik..
    Allahuakhbar

    ReplyDelete
  2. terima kasih atas perkongsian ini :]

    ReplyDelete
  3. brsama kita kongsi ilmu & manfaatnya..insyaALLAH..

    ReplyDelete
  4. Sesungguhnya hidup ini hanya sekali. Berpesan-pesanlah kita untuk kebaikan. Mudah-mudahan akan diberi kejayaan dalam hidup oleh Allah S.W.T.

    ReplyDelete